MEMANGGUL SALIB: TELADAN KETAATAN YESUS

Masa Prapaskah ini menjadi momen yang baik bagi kita untuk merenungkan arti salib dan peristiwa penyaliban Yesus. Setiap hari Jumat kita mengikuti devosi Jalan Salib Yesus di Gereja. Melalui devosi ini diharapkan agar kita memahami sungguh makna salib dan peristiwa penyaliban Yesus. Dalam renungan singkat ini saya mencoba menggerakkan bagian penting dalam diri kita, yaitu emosi spiritual atas salib dan peristiwa penyaliban Yesus.

Berangkat dari kisah-kisah yang didengar, salib dan penyaliban ditujukan untuk menimbulkan rasa sakit yang mendalam dan rasa malu yang hebat (penghinaan). Maka salib yang digunakan oleh orang-orang Romawi untuk menyalibkan para penjahat tidak hanya dimaksudkan untuk menimbulkan rasa sakit yang hebat, tetapi lebih-lebih untuk membuat orang yang disalibkan itu merasa hina dan tidak bermartabat. Keadaan ini semakin diperparah, karena dilakukan di hadapan banyak orang dan dipertontonkan di depan umum. Dengan cara demikian orang yang disalibkan itu dikosongkan harga dirinya atau dirampas martabatnya sebagai manusia. Tidak ada bentuk penghinaan lain yang lebih hebat daripada penyaliban.

Dengan disalibkan Yesus sungguh-sungguh dihina dan dirampas martabatnya, bukan hanya sebagai manusia, tetapi juga sebagai Anak Allah. Kemuliaan-Nya sebagai Anak Allah dikosongkan. Seperti kata pemazmur: “Tetapi aku ini ulat dan bukan orang, cela bagi manusia, dihina oleh banyak orang.” (Mzm 22:7). Bahkan orang Yahudi sendiri mengatakan bahwa orang yang disalibkan itu “dikutuk oleh Allah”, sehingga menjadi tidak berarti sama sekali. Rasul Paulus juga pernah mengatakan: “Kristus Yesus, walaupun dalam rupa Allah, Ia tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Fil 2:5-11).

Arti salib hanya bisa dipahami dalam konteks ketaatan Yesus sebagai Putera Allah atau sejauh hubungan antara Yesus dan Bapa-Nya. Hanya orang yang menghayati dirinya sebagai Anak Bapa dapat menerima dan memahami misteri salib. Yesus menghayati keputeraan-Nya dan Ia sadar bahwa diri-Nya adalah Anak Allah. Karena itulah Yesus demikian taat kepada kehendak Bapa-Nya, sekilipun menakutkan. Semakin taat berarti semakin siap untuk mengosongkan diri-Nya sendiri. Pengosongan diri Yesus secara total inilah yang membuka jalan bagi Allah Bapa menyelamatkan manusia. Pengosongan diri Yesus itu dimulai dari taman Getsemani sampai ke puncak Golgota (wafat di salib). Karena itulah Yesus sangat dicintai dan ditinggikan Bapa-Nya; mengaruniakan kepada Yesus nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada (Fil 2:5-11)

Hanya melalui salib inilah manusia diselamatkan dan diangkat menjadi anak-anak Allah. Kalau kita ingin mengikuti Yesus, berarti kita juga siap untuk taat seperti Yesus kepada kehendak Bapa di surga. Siap memanggul salib hidup kita sehari-hari dengan sabar dan tabah.

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *